Trump Kemabali Menjabat Periode ke-2 dengan gebrakan perdagangan global kebijakan tarif resiprokal. Per 9 April 2025, tarif dasar 10% untuk semua negara eksportir dan tambahan bea masuk terhadap 60 negar,termasuk Indonesia 32%.
Mengapa Trump Berencana Cabut Tarif 0% untuk Indonesia?
1. Defisit Perdagangan AS-Indonesia
AS mencatat defisit perdagangan dengan Indonesia yang terus meningkat. Pada 2023, defisit mencapai $16,5 miliar. Trump dikenal sebagai presiden yang proteksionis dan ingin mengurangi defisit perdagangan AS dengan berbagai negara, termasuk Indonesia.
2. Kritik atas Praktik Perdagangan RI
Pemerintahan Trump menilai Indonesia kurang memberikan akses pasar yang adil bagi produk AS, terutama di sektor pertanian dan digital. AS juga mempertanyakan kebijakan larangan ekspor mineral mentah Indonesia yang dianggap merugikan industri manufaktur AS.
3. Persaingan dengan Produk China
Banyak produk Indonesia yang menggunakan bahan baku dari China. AS khawatir fasilitas GSP justru menguntungkan China secara tidak langsung, karena produk China bisa “menumpang” ekspor Indonesia ke AS.
Jika fasilitas GSP dicabut, produk-produk berikut bisa terkena dampak besar:
- Tekstil & Pakaian (kain, garment, produk konveksi)
- Alas Kaki (sepatu, sandal)
- Produk Kayu & Furnitur
- Elektronik & Komponen
- Ikan & Produk Kelautan
Negoisasi ini harapkan bisa memberikan sejumlah keringanan, termasuk perpanjangan tarif 0% bagi 3.800an barang Indonesia.
Tags: #Trump #EksporIndonesia #PerdaganganInternasional #GSP #EkonomiRI